Diah (1)

Based on true story.

Namanya Diah, bukan nama panggilan biasanya.

Mari coba ingat lagi kapan dan dimana pertama kali kami saling mengenal?

Aku tidak begitu ingat kapan tepatnya kita mulai akrab.

Ingatan yang muncul ketika aku mulai me-recall kali memori itu adalah, saat aku duduk di kelas 10 akuntansi 3.

Aku adalah seorang junior dan Kak Diah datang bersama dengan kakak senior dari akuntansi 3 lainnya.

Waktu itu adalah jam siang, sepertinya sudah selesai jam pelajaran atau bagaimana, tidak begitu ingat.

Kak Diah dan senior lainnya memberikan kami sebuah nasehat. Memberikan kami sebuah petuah tentang bagaimana kami harus bersikap sebagai junior dan menjaga nama baik jurusan akuntansi 3.

Aku memperhatikan dengan seksama menghargai mereka sebagai seorang senior. 

***

Aku tidak menyangka bahwa Kak Diah juga adalah anggota Rohis (Rohani Islam) di sekolah. Sebuah ekstrakurikuler yang saat itu tidak ingin disebut hanya sekedar ekstrakurikuler saja tapi organisasi.

Kak Diah hadir dan memperkenalkan diri bahwa dia adalah Kakak pengurus rohis. Dengan gaya yang sedikit kocak dan berusaha menghibur kami yang junior.

Aku tidak begitu menyambut antusias dirinya. Siapa dia? Aku tidak begitu peduli.

Dirinya mudah akrab dengan siapa saja. Teman-teman sejawatku begitu cepet akrab dengannya.

Sedang aku hanya mengamati dari jauh. 

***

Lagi-lagi aku tidak begitu ingat moment apa yang membuat kami menjadi akrab.

Satu kelompok ketika acara Rohis?

Atau karena sering pulang bareng?

Bisa jadi.

Yang kuingat, Kak Diah orang yang senang bercerita. Siapa pun itu. Dan kabar baiknya aku senang mendengarkan orang bercerita.

Perjalanan pulang dari sekolah dengan oplet itu cukup lama, memberikan banyak kesempatan untuk bercerita. Dan mungkin disanalah bermula kami saling menceritakan hal menarik tentang diri satu sama lain.

Aku mulai senang berteman dengannya. Seperti bukan senior, ia bahkan sudah seperti teman. Begitu hangat dan menyenangkan.

Dia mempunyai wajah yang tak biasa. Ternyata Kak Diah blasteran, alias keturunan India. Pantas saja dai memiliki senyum yang manis dan indah. Gaya bicaranya tidak biasa. Seakan ingin menguasai dunia, hahaha. Bercanda.

***

Aku tahu Kak Diah bukan hanya akrab denganku, tapi dengan semua orang. Bersamaku dia selalu menceritakan banyak hal. Tentang si A, B, C, D, E dan lainnya.

Rasa sayang, kesal, sebal, benci, kecewa dan semuanya, dia ceritakan. 

Terkadang tidak semua bisa kutangkap dengan baik. Kupikir saat itu aku bukan teman cerita yang menyenangkan karena sesekali aku merasa takut tidak bisa menimpal balik ceritanya. Khawatir bahwa aku bukan teman yang menyenangkan unutknya bercerita.

***

Aku adalah tipe orang pemalu dan pendiam. Bertolak belakang sekali dengannya. 

Ada sebuah kejadian yang membekas.

Saat itu aku menjabat sebagai ketua keputrian Rohis (Kaput) waktu sudah di kelas 11. 

Tradisinya, yang menjadi ketua di ekskul wajib menjadi kakak senior dalam kegiatan ospek adik-adik baru nanti.

Aku punya pengalaman tidak menyenangkan ketika ospek, waktu kelas 10 dulu. Aku mengalami trauma. Bagiku ospek kegiatan yang menyebalkan. Aku pernah menangis dan ditertawakan oleh kakak senior.

"Aku gak mau, kak. Apalagi ada kakak itu yang mengajar."

Waktu itu, ada masa pelatihan persipana ospek menjadi kakak tingkat.

"Gak apa, ikut aja." 

Kak Diah pernah menyemangatiku.

Dia mengenggam hangat tanganku dengan tangannya yang kecil itu. Aku merasakan ada energi lain dari dirinya. Rasanya ingin menangis, jadi pelan-pelan aku lepas genggamannya.

Dia menemaniku, menghibur diri ini yang tengah sedih. Pada akhirnya aku memutuskan kabur dari pelatihan itu. Saat semua ketua ekskul berbaris dalam kegiatan PBB. 

Ketika kakak yang pernah menertawakanku ketika ospek berkata, "hai, kamu adik yang pernah nangis waktu itu, kan?"
Tunjuknya padaku yang tengah berbaris. 

Daripada menangis di lapangan itu, aku memilih kabur ditengah-tengah pelatihan, sampai-sampai ketua OSIS yang waktu itu susah payah membujukku terus memanggil, meminta diri ini kembali ke barisan.

Saat itu Kak Diah menghiburku. Dia berusaha mengerti perasaanku.

Aku tidak seberani yang lain. Aku lemah.

***

Banyak kisah yang begitu memorable bersamanya.

Kak Diah tidak suka pakai rok dan pengakuannya dia tidak punya rok. Suatu hari dia pergi study tour ke Medan. Aku meminjamkan rok padanya. Aku ingat sekali, rok kotak-kotak warna merah. Itu adalah rok pertamaku di tahun pertama berjilbab.

Aku bangga akhirnya dia mau menggunakannya, padahal awalnya dia menolak, bahkan juga berfoto menggunakan rok itu.

Saat itu sekolah terasa sepi tanpanya. Lebih tepatnya beberapa temanku yang juga menyukai cerita-cerita serunya, dimana ada Kak Diah pasti semua orang akan berkumpul mengerumunginya. Dia adalah pusat perhatian.

Bahkan teman sekelasku, terus mencari informasi seru Kak Diah selama study tour. Aku hanya menyimak informasi itu.

Mengirim sms dan segala macamnya. Waktu itu belum ada android seperti sekarang.

Aku pikir sudah mengetahui gimana kabarnya dari teman sekelas sudah cukup. Tidak perlu menanyainya dua kali. Khawatir akan menganggu perjalanannya.

Dan lagi pula, bukan aku junior satu-satunya yang menantikan hadirnya kembali ke sekolah dan menantikan cerita serunya.

Saat akhirnya dia kembali dari study tour. Di saat hampir semua kakak senior pulang langsung menuju rumahnya ketika bus sudah mendarat di sekolah, Kak Diah memilih tetap di sekolah. Beristirahat di musholla dan ketika para junior alias fans-nya mengetahui bahwa dia sudah kembali langsung saja membuat lingkaran dan memburu Kak Diah dengan berbagai pertanyaan.

Aku?

Aku lagi-lagi hanya mengamati. Tidak sanggup berada di kerumunan itu. Aku pikir sebaiknya aku melihat dari jauh saja. Kak Diah pasti capek.

Jadinya, aku tidak menyapanya.

Siangnya ternyata Kak Diah masih di sekolah. Dia bilang mau pulang bareng denganku.

Dan ternyata beberapa waktu kemudian dia mengakui bahwa merasa kesal denganku.

"Terkait apa?" Aku kaget. Kesalahan apa yang kubuat.

"Kenapa tidak pernah nanya kabar kakak selama study tour terus waktu udah pulang kok cuman diam aja, gak ikut nanya?"

Aku terdiam. 

Aku pikir diriku tidak penting untuknya, makanya waktu itu tidak ikut nimbrung bersama dengan lainnya karena diri ini kurang seru.

"Maaf ya, Kak." Dan aku menjelaskan semuanya, walau ia tidak sepenuhnya mengerti alasannya.

***

Kak Diah orang yang populer.

Siapa yang tak kenal dirinya, bahkan guru-guru pun juga menyukainya. 

Dia teman yang asik diajak berbincang-bincang.

Suatu hari ia pernah mengatakan bahwa ada junior yang begitu sangat ia sayangi. Aku mendengar cerita itu hanya bisa tersenyum dan mendengarkan dengan baik. Ada rasa seperti, "aah...ternyata bukan aku adik yang dia sayangi itu."

Dengan perasaan itu, aku berusaha untuk tetap mendengarkan ceritanya tentang adik yang ia sayangi ini. Ia kesal tapi sayang, ia marah tapi sayang, seakan ia ingin terus melindungi adik itu.

Saat itu ingin rasanya aku bilang, "boleh berhenti menceritakannya? Entah kenapa aku tidak senang mendengarnya." 

Namun, aku tidak bisa mengatakannya. Sepertinya aku kekanak-kanakan.

***

Dan entah apa yang kupikir saat itu, aku memutuskan untuk menjaga jarak dengannya. 

Untuk apa aku dekat dengannya kalau ia lebih sering menceritakan orang lain. Untuk apa ku dekat dengannya jika bentuk perhatianku sebagai adiknya tidak pernah ia tanggapi serius. Aku mulai merasa lelah dan beban jika bersamanya. Aku mulai tidak mengerti dengan dirinya.

Kak Diah adalah kakak yang aneh. Dia sulit dimengerti. Meski dia sering bilang aku perajuk, toh dirinya lebih perajuk. 

Aku pun mulai menjauh darinya.

***

Kak Diah adalah sosok yang populer. Aku pikir dengan tidak adanya diri ini lagi yang menjadi pendengarnya tidak ada masalah baginya. Terlebih kami sudah jarang pulang bareng karena aku sudah beda arah. Biasanya naik oplet langsung ke Harapan Raya, tapi waktu itu aku naik bus lagi menuju Panam.

Dan kami sudah mulai jarang berbincang lagi. Tidak masalah, toh dia punya teman yang banyak lebih seru.

Meski begitu, sesekali aku merasa menyesal. Ingin kembali akrab dengannya tapi tidak tahu harus bagaimana, hingga ia pun lulus sekolah.

Kami sudah mulai jarang komunikasi. Sesekali ia mengirimkan pesan lewat sms. Dan aku jarang membalasnya.

Bersambung...


(Maaf jika ada ceritanya yang kurang tepat, kejadiannya sudah 10 tahun lebih berlalu)


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer