Dear Diary (28) - Hamil Anak Kedua

Alhamdulillah sebuah anugerah yang tak disangka Allah berikan lagi amanah itu kepada kami. Aku dan Suami memang berencana mau anak kedua. Niatnya usaha dulu tapi ternyata dikasih lebih cepat, sehingga kesenangan itu bercampur dengan kekhawatiran, yaitu aku baru operasi sesar di anak pertama dan kemungkinan besar akan operasi lagi di anak kedua.

Walau aku berusaha untuk tidak terlalu mempercayai karena sudah telat haid berhari-hari, suami juga meminta tidak terburu-buru untuk test pack. Namun kami sepakat untuk test pack jika sudah dua minggu aku telat haid. 

Dan setelah aku test pack, benar saja garis dua itu muncul. Dan aku berniat menunjukkan pada suami tapi dia tidak melihatnya. Dia hanya mengangguk dan langsung mempercayai.

"Kok gak liat dulu sih?" Kecewaku.

"Udah tau kok, yakin kalau kamu itu hamil." Ucap suami tanpa rasa bersalah.

Maksudku ya dilihat saja gitu, menghargai, tapi suami antara seyakin itu atau tidak begitu ekspresif seperti konten-konten para bapak yang ditujukan test pack oleh istrinya.

Suamiku emang agak beda. Dia kaum "mengalir" aja.

Berita hamil anak kedua ini kami rahasiakan berdua sampai benar-benar ke dokter obgyn dan melihat kondisi janin. Karena juga aku takut akan dimarahi karena "kebobolan" ini.

Bahkan ketika periksa ke dokter obgyn pertama kali, dokter bertanya setelah melihat riwayat melahirkan sebelumnya, "kebobolan ya, Bu?" Aku cuma mematung tidak bisa menjawab.

Sesaat dokter mengubah kalimatnya, "sudah direncakanan ya?" Aku hanya tersenyum tipis karena malu sembari menatap suami. Saat itu anak pertama tidak kami bawa.

***

Dan rasa tidak percaya bisa hamil anak kedua lagi itu selalu meliputiku. Ku tatap lagi video USG yang masuk dalam aplikasi. Sembari kuelus perut yang masih belum bulat itu tapi ada gumpalan lemak sisa gendut sebelumnya yang belum berhasil hilang.

Kondisiku tidak mabuk sama sekali. Aku bahkan jadi khawatir apakah janinku baik-baik saja karena aku masih seperti biasa saja saat itu bahkan sudah jalan tiga bulan kandungan ditambah juga aku masih menyusui anak pertama  yang belum genap dua tahun. 

Aku juga sempat tanya dengan dokter apakah aman jika masih menyusui, jawabannya asal tidak mengalami kontraksi masih aman. Jadilah sampai sekarang aku masih menyusui toddler-ku, anak pertama yang sedang aktif sekali itu. Sempat kusisipkan denga susu formula namun belakangan ini tidak kuberikan lagi karena ketahuan oleh dokter spesialis anak si toddler ada alergi dengan olahan sapi serta turunannya (episode ini akan aku ceritakan di part lainnya).

Pada akhirnya ketika aku memutuskan untuk tetap puasa disaat lagi hamil muda dan sesekali merasa lemas juga aku pun test ombak, memberitahu ponakan, lalu dia kaget dan senang. Lalu memberi tahu kakak perempuan tertuaku dan cukup hanya sampai di sana. Selebihnya aku yakin kabar aku hamil lagi akan tersebar dengan cepat.

Bahkan aku tidak memberi tahu secara langsung dengan orang tua kandungku. Aku tidak mau saja memberi tahu, mengingat pernah waktu anak pertama baru berusia 4 bulan aku sempat telat haid sampai 2 minggu lamanya dan itu saat bulan puasa. Aku sudah habis dimarahi, dibilang lalai dan tidak sayang anak. Dan pada saat itu aku test pack di minggu kedua dan hasilnya negatif, dua buah test pack aku beli langsung, senangnya bukan main. Dan sorenya pada saat buka puasa aku lemas selemas lemasnya, mual pusing keringat dingin, perut melilit dan ternyata aku haid. Begitulah atas dasar itu aku tidak memberi tahunya. Cukup kakak perempuan tertuaku saja yang memberi tahu.


Bersambung...

Komentar

Postingan Populer