Dear Diary (25) Kepala Berat

Kepala ini terasa berat. Aku kurang tidur. Ini semua dilakukan demi menjalani amanah yang Allah berikan, yakni seorang bayi lucu yang kini sedang aku usahakan mengejar BB dan TB nya.

Ini seperti sedang mengejar nilai ujian tengah semester di sekolah.

Aku lalai karena terlalu takut untuk berusaha. Ini memang terjadi, beberapa kali aku membuat makanan MPASI versi aku, bayi tidak mau memakannya meskipun dia lapar karena tidak suka dengan menu.
Aku sadari aku serampangan buatnya.

Juga karena bahan-bahannya yang ada menurutku tidak proper, sehingga tidak maksimal walau berusaha takarannya aku sudah coba baca sesuai kemenkes. Ada satu menu yang pernah berhasil aku buat, walau tidak sering, yaitu telur. Ya, menu protein telur ayam. Tapi bermasalah di teksturnya. 

Pokoknya kayaknya gak enak. Alhasil berbulan-bulan aku kasih MPASI bayi dengan menu bubur organik yang jualan di pinggir jalan. Dan ternyata itu memang membuat bayiku stuck BB dan TB nya. Walau sebenarnya aku sudah tahu informasi itu di beberap scroll video yang aku lihat. Tapi, mau gimana, saat itu aku masih belum berani membuat MPASI enak versi diriku.

Hingga, ketika bayi berumur 10 bulan dan dibawa ke posyandu. Dan dinyatakan kurang gizi, bukan lagi sudah dibawah kurva merah alias anakku kekurangan gizi sekali. Sehingga disarankan ke puskesmas ke bagian Badan Gizi. Puskesmas ya? Wah, mendengar itu membuatku malas. Sungguh fasilitas yang diberikan pemerintah untuk rakyat jelata ini pasti ribet, ini itunya lagi belum lagi ngantri. Aduh, aku harus izin lagi nih? Setelah petugas posyandu mengecek buku KIA anakku dan didapati bahwa belum imunisasi DPT 3. 

Jujur, aku maju mundur soal imunisasi ini, takut anakku demam, lalu makin gak mau makan lagi, udah kemarin dia baru saja berhasil melewati fase tumbuh gigi, dan beberapa hari GTM (Gerakan Tutup Mulut). 

Ya, semua akhirnya dijalani, bayiku demam setelah vaksin DPT 3 dan dijadwalkan vaksin campak bulan depannya. Katanya sih vaksin campak gak bikin demam.

Petugas posyandu juga menyarankan aku memberikan susu formula pada anakku. Meski hati rasanya teriris mendengar itu. ASI ku apa kurang ya?

Dan mereka juga menginformasikan nanti di Badan Gizi bakalan di kasih vitamin dan susu formula pediasure. Aku lemas, ingin pula dan menangis saat itu, tapi aku berusaha kuat.

***

Ya, Dan akhirnya aku memaksa semua organ tubuhku, jiwa, raga, pikiran, dan semuanya. Bagaimana pun caranya bayiku harus makan dari MPASI buatanku sendiri. Untuk bisa memenuhi kebutuhan protein dan kalorinya. 

Susu formula sempat dibeli dengan saran itu. Namun, bayiku menolaknya dia tidak mau.

Aku juga bilang pada suami bahwa harus menyetok bahan makanan untuk anak kami. Meski saat ini menu utama proteinnya masih telur dan ikan teri basah yang sudah lama sekali aku beli. Selanjutnya ingin membuat dengan daging ayam. Lagi-lagi aku harus pelajari banget biar gak salah takaran dan cara masaknya.

Huufftt...Aku merasa bersalah karena menyerah diawal untuk tidak masak MPASI hanya karena terlalu takut. Sekarang sudah harus lebih percaya diri apalagi sekarang sudah fase naik tekstur.

Bismillah dengan izin Allah semoga bayiku segera bisa mengejar ketertinggalan mengenai tumbuhnya, untuk kembangnya sejauh ini masih aman. MPASI adalah part dari sekian hal yang harus kulakukan sebagai orang tua, tidak berhenti belajar hanya dibagian itu saja, tapi bagian yang lain mengenai mengasih manusia kini sedang menanti dan harus terus di upgrade, tak cukup hanya belajar sekedarnya,  harus maksimal ikhtiar.

Semangat para ibu-ibu yang ada di dunia.

Oh ya, aku juga banyak searching mengenai masalah MPASI ini, juga mengenai konsultasi dengan DSA. Aku berencana bulan depan untuk konsulitasi, semoga tidak terlambat karena aku sedang mencari dimana saja letak yang harus diperbaiki. Jika anakku masih mau makan dan bisa dikatakan lahap tapi tetap stuck maka aku sudah punya jawabannya.

Lagi-lagi harus fokus dan selalu berserah kepada Allah. Disaat situasi ku pelik dan lelah aku berusaha koneksikan hati ke Allah, "Ya Allah, bantu aku..." Begitu.


Di Kantor (dalam cuaca sedang rinai hujan, sembari menunggu jemputan)


Komentar

Postingan Populer